Negara-negara G20 Gagal Sepakati Komitmen Perubahan Iklim di Komunike Terakhir

24 Juli 2021, 13:38 WIB
Ilustrasi. Negara-negara G20 Gagal Sepakati Komitmen Perubahan Iklim di Komunike Terakhir. /Pixabay/Gerd Altmann.

PR SOLORAYA - Menteri energi dan lingkungan dari kelompok 20 negara kaya atau G20 telah gagal menyepakati kata-kata dari komitmen utama perubahan iklim dalam komunike terakhir mereka.

Kegagalan kesepakatan negara-negara G20 itu dikabarkan oleh Menteri Transisi Ekologi Italia Roberto Cingolani pada Jumat, 23 Juli 2021 kemarin.

Dikutip PRSoloRaya.com dari Metro pada Sabtu, 24 Juli 2021, pertemuan G20 dipandang sebagai langkah yang menentukan menjelang pembicaraan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB, yang dikenal sebagai COP 26, yang berlangsung dalam waktu 100 hari di Glasgow pada bulan November.

Baca Juga: Umumkan Adik Iparnya Meninggal Dunia, Inul Daratista: Kalian Masih Nggak Percaya Covid-19 Ini?

Kegagalan untuk menyepakati bahasa yang sama menjelang pertemuan itu, kemungkinan akan dilihat sebagai sebuah kemunduran bagi harapan dalam mengamankan kesepakatan yang berarti di Skotlandia.

Cingolani mengatakan bahwa para menteri tidak dapat menyetujui dua masalah yang disengketakan, yang sekarang harus dibahas pada pertemuan puncak G20 di Roma pada bulan Oktober mendatang.

“Komitmen yang dibuat hari ini kurang substansi dan ambisi. Sekarang terserah pada kepala negara dan pemerintahan G20 untuk membuang dokumen ini pada KTT para pemimpin Oktober,” kata jaringan aktivis online Avaaz.

Baca Juga: 10 Momen Terbaik dalam Pembukaan Olimpiade Tokyo 2020

Italia memegang jabatan presiden bergilir G20, dan Cingolani, sebagai ketua pertemuan dua hari itu, mengatakan negosiasi dengan China, Rusia dan India terbukti sangat sulit.

Cingolani mengatakan bahwa pada akhirnya China dan India menolak untuk menandatangani dua poin yang diperebutkan.

Salah satunya adalah menghapus secara bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara, yang sebagian besar negara ingin capai pada tahun 2025, tetapi tidak mungkin bagi kedua negara itu.

Baca Juga: 10 Momen Terbaik dalam Pembukaan Olimpiade Tokyo 2020

Yang lainnya prihatin terahadap fokus seputar batas 1,5 hingga 2 derajat Celcius pada kenaikan suhu global yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris 2015.

Suhu global rata-rata telah meningkat lebih dari 1 derajat dibandingkan dengan garis dasar pra-industri yang digunakan oleh para ilmuwan dan berada di jalur untuk melebihi batas 1,5 hingga 2 derajat.

“Beberapa negara ingin melangkah lebih cepat dari apa yang disepakati di Paris dan bertujuan untuk membatasi suhu pada 1,5 derajat dalam satu dekade, tetapi yang lain, dengan ekonomi berbasis karbon lebih banyak, mengatakan mari kita tetap berpegang pada apa yang disepakati di Paris,” kata Cingolani.

Baca Juga: Profil dan Nilai Pasaran Harry Kane dari Transfermarkt, Pemain Tottenham yang Siap Dibeli Manchester City

Komunike terakhir, yang seharusnya diterbitkan pada Jumat kemarin, mungkin tidak akan dirilis sampai hari ini, tambahnya.

Menjelang COP 26, para aktivis lingkungan berharap pertemuan G20 akan mengarah pada penguatan target iklim, komitmen baru pada pembiayaan iklim, dan peningkatan negara-negara yang berkomitmen untuk nol emisi bersih pada tahun 2050.

“G20 gagal mewujudkannya. Tagline G20 Italia adalah 'People, Planet, Prosperity', tetapi hari ini G20 menghadirkan 'Polusi, Kemiskinan and Kelumpuhan'," kata Avaaz.

Baca Juga: Hend Zaza, Atlet Termuda Olimpiade Tokyo 2020 Tersingkir pada Pertandingan Pertama

Cingolani mengatakan G20 tidak membuat komitmen keuangan baru, tetapi menambahkan bahwa Italia akan meningkatkan pembiayaan iklimnya sendiri untuk negara-negara terbelakang.

Terlepas dari dua poin ketidaksepakatan, Cingolani mengatakan G20 telah menyusun 58 poin komunike dan bahwa semua negara sepakat bahwa dekarbonisasi adalah tujuan yang diperlukan.

“Ini adalah pertama kalinya G20 menerima bahwa kebijakan iklim dan energi saling terkait erat,” katanya.***

Editor: Linda Rahmadanti

Sumber: metro.us

Tags

Terkini

Terpopuler